Maaf dan Terimakasih
🌻🌻Sebuah pertemuan kecil yang ternyata berdampak besar telah terjadi. “Apakah sebatas kebetulah atau takdir? “ Itu adalah pertanyaan yang belum menemukan jawaban :)
Pada hari minggu, setelah misa di gereja Mbut berpapasan dengan seorang pemuda di parkiran gereja. Kebetulan motor mereka terparkir bersebelahan. Penampilan pemuda itu cukup modis untuk ukuran style fashion di desa, wajahnya juga tampak asing.
Keesokan hari, Mbut kembali memulai aktifitas sebagai pelajar SMA. Saat istirahat pertama, banyak cewek-cewek berlarian menuju kelas X-d. Akibat rasa kepo yang tinggi, Mbut dan Tika pun ikut beranjak ke kelas itu. Rupanya, kelas itu kedatangan seorang murid baru.
“Tidak salah lagi, dia pemuda yang aku lihat di gereja kemarin” bisik Mbut pada Tina.
“Dia itu sepupuku. Namanya Noen” sahut Tina.
“Really? Wah... Sepupumu seketika jadi daya tarik yaa disini karena ketampanannya” Kata Mbut sembari melirik kearah Noen.
“Wait, what? Belum tahu aja aslinya, dia tuh troble maker. Gonta ganti sekolah, makanya dipindahin dari Bali ke sini” ujar Tika.
Disaat bersamaan, Noen sempat melirik kearah Mbut sembari melemparkan sedikit senyum. Mbut yang pemalu segera memindahkan bola matanya untuk mengalihkan pandangan.
~~~~~~~~~~🌻
Waktu terus berjalan, Mbut malah makin akrab dengan Noen. Noen yang ramah dan humoris berhasil mencairkan karakter Mbut yang sedingin es. Singkat cerita, mereka pun berpacaran.
Perlahan, Mbut melihat sisi lain Noen. Noen adalah si pecandu alkohol. Alkohol sebagai caranya meluapkan amarah dan kekesalannya setiap kali ia merasa penat dan banyak masalah, terlebih lagi hubungan Noen dengan orangtuanya cukup rumit.
Suatu hari, Mbut menceritakan tentang kakaknya yang meninggal akibat kecanduan alkohol. Kalimat Mbut yang paling membekas di hati Noen saat itu..
"Hidupmu memang pilihanmu. Tapi, pernahkah kamu memikirkan orang yang selalu mengkhawatirkanmu? Kakakku yang telah pergi, dia meninggalkan kesedihan, luka dan kekecewaan di hati kami. Please, rawatlah dirimu setidaknya untuk orang yang kamu sayangi".
Sejak itu, Noen perlahan berubah dan memilih meluapkan setiap persoalan melalui doa. Bagi Mbut, hari-hari bersama Noen sangat menyenangkan. Tak terasa, waktu 2 tahun membawa mereka ke penghujung masa SMA. Tinggal menghitung bulan mereka akan segera tiba di pengumuman kelulusan.
Suatu hari Noen sakit parah hingga memerlukan donor ginjal. Mbut sempat menawarkan diri untuk mendonorkan ginjalnya, kebetulan ginjal miliknya cocok dengan Noen. Namun, Noen menolaknya. Ia tak ingin orang yang dikasihinya berkorban seperti itu.
Kondisi Noen pun makin kritis. telah banyak upaya untuk mencari pendonor yang cocok, namun hasilnya nihil.
1 Minggu berlalu, akhirnya muncullah seorang pendonor yang merahasiakan identitasnya. Singkat cerita, proses donor ginjal berhasil. Selama perawatan Noen paska operasi, Mbut tak datang menemuinya. Mbut memberi tahu bahwa ia sedang liburan di luar kota saat itu.
Justru Vero yang selalu ada disisi Noen. Vero adalah teman kelas Noen yang dijuluki Dewi karena parasnya. Setelah 1 bulan berlalu, barulah Mbut datang menemui Noen. Mbut sangat bahagia karena dapat melepas rindu dengannya.
Namun, Noen justru mulai berubah. Ia seakan membuat jarak diantara mereka. Tak jarang, Mbut mendengar gosip bahwa Noen sedang dekat dengan Vero.
~~~~~~~~~~🌻
1 bulan kemudian, tibalah mereka di hari kelulusan. Hari itu, Noen tak datang menemui Mbut. Ia hanya menitipkan sebuah buket bunga untuk diberikan pada Mbut. Yaa .... Itu cukup membuat Mbut senang.
Saat perjalanan pulang tepat di sebuah lampu merah, Mbut menghentikan laju motornya. Di sebelahnya tampak motor Noen. Noen sedang memboncengi Vero. Tangan Vero tampak memeluk Noen dengan erat.
"Ayang kita singgah ke toko buku dulu ya.." Kata Noen pada Vero.
Mendengar itu, Mbut terkejut sembari sekuat tenaga menahan air matanya. Bersamaan dengan itu, Noen menoleh dan sangat terkejut saat menyadari keberadaan Mbut.
Tanpa pikir panjang, Mbut lalu segera menancap gas motornya. Ia menerobos lampu merah agar segera berlalu dari pandangan mereka. Semenjak itu, Mbut lalu mengakhiri hubungannya dengan Noen.
Itu adalah patah hati pertama Mbut. Melihat adik kesayangannya patah hati, Kak Tono lalu datang menghampiri Noen dan menghajarnya.
"Adikku rela pertaruhkan nyawa donorkan ginjal cuma buat orang bangsat kayak kau. Awas saja kalo kau datang temui adikku lagi" Ujar Kak Tono.
Mendengar itu, Noen hanya terdiam membeku. Penyesalan tergambar jelas di wajahnya.
Keesokan hari, Mbut dan keluarganya langsung pindah ke kota lain setelah ayah Mbut ditawarkan pindah tugas disana. Kekecewaan keluarga Mbut pada Noen juga menjadi alasan mereka memantapkan diri untuk pindah.
Semenjak kejadian itu, Noen segera mengakiri hubungannya dengan Vero. Perpisahan dengan Mbut, juga kenyataan bahwa Pendonor rahasianya adalah Mbut mejadi sebuah luka dan penyesalan baginya. Hal itu memicu dirinya untuk kembali minum alkohol dan mabuk-mabukan hingga sering terlibat dalam perkelahian.
5 bulan berlalu di kota baru, Mbut memulai lembaran baru. Sesekali Tika mengabari Mbut mengenai keadaan Noen yang memprihatinkan.
Saat sore sepulang dari pasar, di ruang tamu Mbut melihat seorang pemuda sedang duduk berhadapan dengan kak Tono dan orangtuanya. Wajah pemuda itu tampak terluka seperti baru saja terkena pukulan. Sedangkan Tangan Kak Tono tampak memerah. Rupanya kak Tonolah yang meninju wajah pemuda itu.
"Shalom Mbut.... ini aku Noen" Suara pemuda itu memecah keheningan yang sempat terjadi.
Sejenak Mbut tidak mengenalinya, sebab ia tampak sangat berbeda. Tubuhnya menjadi sangat kurus dengan wajah yang pucat. Kak Tono dan orangtua Mbut lalu meninggalkan mereka berdua. Noen kemudian segera mendekat dan berlutut didepan Mbut.
Noen menyampaikan permintaan maaf dan penyesalannya. Penyesalan terbesarnya adalah menerima donor ginjal dari orang yang ia sayangi juga orang yang ia sakiti. Untuk pertama kalinya, Mbut melihat Noen menangis tersedu-seduh di hadapannya. Tak terasa air mata Mbut ikut mengucur. Kekecewaan juga rasa kasihan pada Noen tercampur menjadi perasaan yang tak dapat ia jelaskan.
Secara tulus Mbut memaafkan Noen. Bagi Mbut, memaafkan adalah salah satu cara meringankan beban juga luka yang dipikul oleh dirinya maupun Noen. Mbut memberi tahu Noen bahwa ia tak pernah menyesal menjadi pendonor untuknya. Mbut juga berpesan padanya...
"Aku menjadi pendonor untukmu agar kamu bisa hidup. Jalani hidupmu dengan benar. Itu akan aku terima sebagai ucapan terimakasih darimu".
Pertemuan itu lalu menjadi akhir kisah mereka. Akhir kisah yang selesai dengan baik-baik.
~~~~~~~~~🌻
15 Tahun berlalu...
Sebuah gereja di desa kecil baru saja menyambut kedatangan pastor baru yang akan bertugas disana. Seluruh umat dan suster menyambut dengan meriah. Disanalah, Noen bertemu kembali dengan Mbut. Mereka terkejut melihat satu sama lain.
Kini Mbut adalah seorang suster, ia telah memilih hidup membiara. Sedangkan Noen telah menjadi seorang pastor yang akan bertugas di desa itu. Rupanya, semenjak pertemuan terakhir mereka. Keduanya mendekatkan diri dengan Tuhan hingga akhirnya memutuskan menjadi pelayan Tuhan.
Keduanya hanya tertawa sembari mengingat kembali masa muda mereka dulu. Lalu mereka saling mendukung untuk tetap setia dalam panggilan mereka sebagai pelayan Tuhan.
~~~~~~~~~~Selesai🌻
Komentar
Posting Komentar